Pertumbuhan Uang Primer Juni 2025 Melambat

Pertumbuhan Uang Primer Juni 2025 Melambat

Pertumbuhan Uang Primer Juni 2025 Melambat

Bank Indonesia (BI) mencatat adanya perlambatan pertumbuhan uang primer (M0) yang disesuaikan pada Juni 2025 dibandingkan dengan bulan sebelumnya, Mei 2025. Data ini mengindikasikan adanya perubahan dinamika dalam likuiditas perekonomian Indonesia dan menjadi perhatian para pelaku pasar serta pengambil kebijakan.

Rincian Data dan Analisis

Pada Juni 2025, uang primer (M0) yang disesuaikan tercatat sebesar Rp 1.957,1 triliun, tumbuh 8,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Mei 2025 yang mencapai 14,5 persen dengan nilai Rp 1.939,1 triliun. Perlambatan ini menjadi sinyal penting yang perlu dianalisis lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor pendorongnya dan implikasinya terhadap stabilitas moneter dan pertumbuhan ekonomi.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perkembangan pada Juni 2025 dipengaruhi oleh dua faktor utama:

  • Pertumbuhan Uang Kartal yang Diedarkan: Uang kartal yang diedarkan tumbuh sebesar 9,0 persen (yoy). Uang kartal merupakan uang tunai yang berada di tangan masyarakat dan menjadi salah satu komponen penting dalam uang primer.
  • Giro Bank Umum di Bank Indonesia yang Disesuaikan: Giro bank umum di Bank Indonesia yang disesuaikan tumbuh sebesar 8,1 persen (yoy). Giro bank umum di BI merupakan simpanan bank-bank umum pada bank sentral dan menjadi bagian dari cadangan likuiditas perbankan.

Faktor-faktor Pendorong Perlambatan

Ramdan Denny Prakoso menekankan bahwa perlambatan pertumbuhan M0 yang disesuaikan dipengaruhi oleh pengendalian moneter yang telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas atau pengendalian moneter yang disesuaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa BI secara aktif melakukan pengelolaan likuiditas untuk menjaga stabilitas moneter dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Beberapa faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap perlambatan pertumbuhan uang primer antara lain:

  • Pengetatan Kebijakan Moneter: BI dapat melakukan pengetatan kebijakan moneter melalui peningkatan suku bunga acuan atau instrumen lainnya untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Pengetatan ini dapat mengurangi permintaan terhadap uang primer.
  • Perlambatan Aktivitas Ekonomi: Jika aktivitas ekonomi mengalami perlambatan, permintaan terhadap uang primer juga dapat menurun. Hal ini disebabkan karena pelaku ekonomi mengurangi transaksi dan investasi mereka.
  • Perubahan Preferensi Masyarakat: Perubahan preferensi masyarakat terhadap instrumen pembayaran non-tunai, seperti uang elektronik dan transfer bank, juga dapat mengurangi permintaan terhadap uang kartal dan mempengaruhi pertumbuhan uang primer.
  • Pengaruh Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM): Kebijakan ini memberikan insentif kepada bank-bank untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi giro bank di BI dan pertumbuhan uang primer.

Interpretasi M0 Adjusted dan Kebijakan BI

M0 yang disesuaikan (Adjusted) dijelaskan oleh BI sebagai indikator yang menggambarkan perkembangan uang primer yang telah mengisolasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia akibat pemberian insentif likuiditas. Dengan kata lain, angka M0 Adjusted memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi likuiditas yang tidak terpengaruh oleh kebijakan insentif likuiditas.

Sejak Januari 2025, BI memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai perkembangan uang primer dengan juga menunjukkan angka M0 Adjusted. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kondisi likuiditas, termasuk kondisi likuiditas yang telah mengakomodasi dampak kebijakan insentif likuiditas.

Implikasi terhadap Perekonomian

Perlambatan pertumbuhan uang primer dapat memiliki berbagai implikasi terhadap perekonomian, antara lain:

  • Potensi Dampak pada Pertumbuhan Kredit: Jika pertumbuhan uang primer melambat secara signifikan, hal ini dapat mempengaruhi kemampuan bank-bank untuk menyalurkan kredit. Pertumbuhan kredit yang lebih rendah dapat menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi.
  • Pengaruh pada Inflasi: Pengendalian pertumbuhan uang primer dapat membantu menjaga inflasi tetap terkendali. Namun, jika perlambatan terlalu drastis, hal ini dapat menyebabkan deflasi atau penurunan harga-harga secara umum, yang juga dapat berdampak negatif terhadap perekonomian.
  • Dampak pada Sektor Riil: Perlambatan pertumbuhan uang primer dapat mempengaruhi sektor riil melalui penurunan permintaan dan investasi. Hal ini dapat berdampak pada kinerja perusahaan dan lapangan kerja.
  • Perubahan Suku Bunga: Perlambatan pertumbuhan uang primer dapat mempengaruhi suku bunga di pasar keuangan. BI dapat menyesuaikan suku bunga acuan untuk merespons perubahan dalam kondisi likuiditas.

Tantangan dan Rekomendasi Kebijakan

BI menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar, dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Untuk mengatasi tantangan ini, beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Pengelolaan Likuiditas yang Cermat: BI perlu terus melakukan pengelolaan likuiditas yang cermat untuk memastikan ketersediaan likuiditas yang cukup bagi perbankan dan sektor riil, tanpa mengganggu stabilitas moneter.
  • Komunikasi yang Efektif: BI perlu meningkatkan komunikasi dengan pelaku pasar dan masyarakat mengenai kebijakan moneter yang diambil dan prospek perekonomian. Hal ini dapat membantu mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan kepercayaan.
  • Koordinasi Kebijakan: BI perlu berkoordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait lainnya untuk memastikan kebijakan fiskal dan sektor riil mendukung stabilitas moneter dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
  • Evaluasi Kebijakan Insentif Likuiditas: BI perlu terus mengevaluasi efektivitas kebijakan insentif likuiditas dan melakukan penyesuaian jika diperlukan untuk memastikan kebijakan tersebut mencapai tujuannya tanpa menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.
  • Memantau Perkembangan Global: BI perlu terus memantau perkembangan ekonomi global dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini penting untuk mengantisipasi risiko dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas.

Kesimpulan

Perlambatan pertumbuhan uang primer pada Juni 2025 menjadi sinyal penting yang perlu dianalisis lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor pendorongnya dan implikasinya terhadap stabilitas moneter dan pertumbuhan ekonomi. BI perlu terus melakukan pengelolaan likuiditas yang cermat, berkomunikasi secara efektif, berkoordinasi dengan otoritas terkait, dan mengevaluasi kebijakan insentif likuiditas untuk menjaga stabilitas moneter dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pertumbuhan Uang Primer Juni 2025 Melambat

More From Author

Koperasi Desa Merah Putih Ikut Renovasi 2 Juta Rumah

DPR Minta KKP Jelaskan Pulau Kecil di Bali-NTB yang Dikuasai Asing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *