
Manufaktur Ditargetkan Berkontribusi 18,56 Persen ke PDB 2026
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Target yang ditetapkan sebesar 18,56 persen pada tahun 2026, merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara signifikan. Agus menekankan bahwa target ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen. Pernyataan ini disampaikan di kompleks parlemen, Jakarta, pada hari Senin, 7 Juli 2025.
Selain menargetkan peningkatan kontribusi terhadap PDB, Kementerian Perindustrian juga menetapkan target pertumbuhan PDB sektor manufaktur sebesar 6,52 persen pada tahun yang sama. Target ini menunjukkan optimisme terhadap potensi sektor manufaktur sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Untuk mendukung pertumbuhan ini, investasi di sektor manufaktur diharapkan mencapai Rp852,9 triliun, yang akan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga mencapai 129,3 juta orang per tahun.
Kontribusi sektor manufaktur terhadap total ekspor nasional juga menjadi fokus utama. Pemerintah menargetkan sektor ini dapat menyumbang sebesar 74,85 persen dari total ekspor nasional. Agus menekankan bahwa pencapaian target-target ini memerlukan dukungan anggaran yang memadai dan sesuai dengan prioritas kebutuhan.
Selama periode 2021 hingga 2023, pagu anggaran Kementerian Perindustrian mengalami peningkatan, mencapai puncaknya pada tahun 2023 sebesar Rp 4,53 triliun. Namun, pada tahun 2026, anggaran kementerian mengalami penurunan signifikan sebesar 23,13 persen atau sekitar Rp 582,73 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi perhatian serius karena dapat menghambat upaya pencapaian target yang telah ditetapkan.
Agus menjelaskan bahwa kementeriannya memperoleh pagu anggaran sebesar Rp 1,93 triliun untuk tahun 2026. Namun, ia mengajukan usulan penambahan anggaran sebesar Rp 2,05 triliun sehingga total usulan anggaran mencapai Rp 3,98 triliun. Dana tambahan ini direncanakan untuk membiayai 255 kegiatan strategis yang menjadi prioritas kementerian. Agus menjelaskan bahwa usulan tambahan anggaran tersebut sangat penting untuk mendukung pelaksanaan berbagai program yang dapat mempercepat pertumbuhan industri manufaktur dan memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
"Kami mengajukan tambahan anggaran Rp 2,05 triliun untuk memastikan pelaksanaan berbagai program strategis dapat berjalan sesuai rencana," ujarnya. Penambahan anggaran ini diharapkan dapat mengatasi tantangan yang ada dan memastikan bahwa sektor manufaktur dapat mencapai potensi penuhnya.
Namun, di tengah optimisme dan target yang ambisius, terdapat tantangan yang perlu diatasi. Lembaga pemeringkat dunia, Standard & Poor’s Global Ratings (S&P) sebelumnya merilis data Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia per April 2025 yang menunjukkan penurunan ke level 46,7 atau zona kontraksi. Angka ini mengindikasikan adanya penurunan aktivitas manufaktur di Indonesia.
PMI Manufaktur adalah indikator penting yang mengukur aktivitas sektor manufaktur. Ambang batas pertumbuhan PMI Manufaktur adalah 50. Artinya, PMI di atas 50 menunjukkan ekspansi, sedangkan PMI di bawah 50 menunjukkan kontraksi. Data yang diumumkan S&P menunjukkan bahwa sektor manufaktur Indonesia mengalami kontraksi pada bulan April 2025.
S&P mencatat bahwa kontraksi ini disebabkan oleh penurunan tajam volume produksi dan permintaan baru. "PMI Manufaktur Indonesia dari S&P Global turun di bawah 50,0 pada bulan April, menunjukkan penurunan kesehatan sektor manufaktur Indonesia dalam lima bulan," demikian tertulis dalam rilis yang diterbitkan pada 2 Mei 2025. Penurunan ini menjadi perhatian serius karena dapat menghambat upaya pencapaian target pertumbuhan yang telah ditetapkan.
Indeks Manufaktur Indonesia sebelumnya berada di zona ekspansi selama empat bulan berturut-turut sejak Desember 2025. Pada Maret 2025, indeks manufaktur masih berada di level 52,4. Penurunan ini menandakan penurunan paling signifikan pada kondisi bisnis sejak bulan Agustus 2021. Hal ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur menghadapi tantangan yang signifikan dan memerlukan perhatian khusus.
Untuk mengatasi tantangan ini dan mencapai target yang telah ditetapkan, Kementerian Perindustrian perlu mengambil langkah-langkah strategis. Pertama, memastikan bahwa anggaran yang memadai tersedia untuk mendukung program-program prioritas. Kedua, meningkatkan daya saing sektor manufaktur melalui peningkatan produktivitas, inovasi, dan adopsi teknologi baru. Ketiga, menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk menarik investasi asing dan domestik. Keempat, memperkuat rantai pasok dan meningkatkan efisiensi logistik. Kelima, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Selain itu, pemerintah juga perlu bekerja sama dengan sektor swasta untuk mengatasi hambatan-hambatan yang ada dan menciptakan lingkungan bisnis yang lebih baik. Dialog yang konstruktif antara pemerintah dan sektor swasta sangat penting untuk mengidentifikasi masalah dan mencari solusi yang efektif.
Pencapaian target kontribusi manufaktur sebesar 18,56 persen terhadap PDB pada tahun 2026 bukan hanya sekadar angka, tetapi juga merupakan langkah penting untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai negara industri yang maju dan berdaya saing global. Sektor manufaktur memiliki potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Untuk mencapai visi ini, diperlukan komitmen yang kuat dari semua pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Pemerintah perlu mengambil kebijakan yang tepat dan memberikan dukungan yang memadai, sektor swasta perlu berinvestasi dan berinovasi, dan masyarakat perlu mendukung produk-produk dalam negeri.
Dengan kerja keras dan kerjasama yang solid, Indonesia dapat mencapai target kontribusi manufaktur sebesar 18,56 persen terhadap PDB pada tahun 2026 dan mewujudkan visi sebagai negara industri yang maju dan berdaya saing global. Sektor manufaktur akan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, perlu diingat bahwa sektor manufaktur tidak hanya berkontribusi pada PDB, tetapi juga memiliki dampak sosial dan lingkungan yang signifikan. Oleh karena itu, pembangunan sektor manufaktur harus dilakukan secara berkelanjutan, dengan memperhatikan aspek-aspek sosial dan lingkungan.
Pemerintah perlu mendorong praktik-praktik manufaktur yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta memastikan bahwa sektor manufaktur memberikan manfaat yang adil bagi semua lapisan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan sektor manufaktur dapat memberikan kontribusi yang positif bagi pembangunan Indonesia secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, target kontribusi manufaktur sebesar 18,56 persen terhadap PDB pada tahun 2026 merupakan target yang ambisius, tetapi juga realistis jika didukung oleh kebijakan yang tepat, investasi yang memadai, dan kerjasama yang solid dari semua pihak. Sektor manufaktur memiliki potensi besar untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Dengan kerja keras dan komitmen yang kuat, Indonesia dapat mewujudkan visi sebagai negara industri yang maju dan berdaya saing global.
Pemerintah juga harus fokus pada pengembangan industri-industri yang memiliki nilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor. Industri-industri ini akan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap PDB dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong inovasi dan adopsi teknologi baru di sektor manufaktur untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Pengembangan sektor manufaktur juga harus dilakukan secara terintegrasi dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian, seperti sektor pertanian, sektor jasa, dan sektor pariwisata. Integrasi ini akan menciptakan sinergi dan meningkatkan daya saing seluruh perekonomian Indonesia.
Dengan demikian, pembangunan sektor manufaktur bukan hanya sekadar upaya untuk meningkatkan kontribusi terhadap PDB, tetapi juga merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Sektor manufaktur akan menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi Indonesia dan memberikan manfaat yang adil bagi semua lapisan masyarakat.
Oleh karena itu, semua pihak perlu bekerja sama dan memberikan dukungan yang memadai untuk memastikan bahwa sektor manufaktur dapat mencapai potensi penuhnya dan memberikan kontribusi yang maksimal bagi pembangunan Indonesia. Dengan kerja keras dan komitmen yang kuat, Indonesia dapat mewujudkan visi sebagai negara industri yang maju dan berdaya saing global.
